Liburan musim panas pun tiba. Taylor dan Sam di undang ayahnya untuk berlibur bersama ayahnya. Mendengar berita itu, Sam sangat senang.
“Wah asyik, akhirnya aku mau ketemu dengan ayah setelah setahun tak bertemu”. Kata Sam dengan sangat gembira.
Namun, Taylor tak menunjukan suatu hal yang menggembirakan. Taylor hanya bersikap biasa-biasa saja. Yang dahulunya sebelum kedua orang tua mereka bercerai, Taylor sangat menyayangi dan mencintai ayahnya. Karena terlalu cinta dan sayang kepada ayahnya, sehingga hobi dari ayahnya di ikuti oleh Taylor yaitu bermain piano. Mereka sering bermain piano, namun setelah ayah dan ibu mereka bercerai Taylor tak menyukai lagi piano.
Akhirnya Taylor dan Sam diantar ke rumah ayahnya oleh ibu mereka. ya di rumah ayah mereka, dengan cepat Sam turun dari mobil dan memeluk ayahnya yang sudah menunggu mereka di pekarangan rumah.
“daddy” dari jauh Sam berteriak dan kemudian memeluk ayahnya.
“lihat kau sudah besar sayangku. Ayah merindukankanmu” Kata ayah pada Sam.
“aku juga daddy” jawab Sam.
“Wow, lihat daddy tinggal di pantai?” Tanya Sam.
“yah!” jawab ayahnya.
“Ini hebat, daddy” jawab Sam.
Ibu mereka mendatangi mereka dan Sam menuju belakang rumah.
“jangan main ke laut nak dan hati-hati kalau masuk daerah laut” kata ibu kepada Sam.
Ibu dan ayah mereka berpelukan.
“apa kabarmu?” Tanya ibu. “Aku baik” jawab ayah. Taylor datang dan menghampiri ayah dan ibunya.
“oh, benar kita memiliki 2 anak. “Hai Taylor. Apa kabarmu, sayang?” Tanya ayah kepada Taylor. Taylor hanya bergegas dan menuju pantai. “jangan bilang apapun. Yah, begitulah ia beberapa bulan belakang ini” sambung ibunya.
Taylor berjalan ke pantai dan melihat banyak orang yang sedang bersenang-senang di pantai. Dia menuju karnaval.
“hai. Mau pesan apa?” Tanya dari seorang penjual.
“jus stoberi.” Setelah membayar jus itu, Taylor melajutkan jalan-jalannya di pantai itu.
“tangkap ini will.” Will yang sedang bermain voli di pantai tak sengaja mendorong Taylor yang lewat ketika Will sedang menangkap bola. Mereka berdua pun jatuh dan jus stoberi yang di beli Taylor terbuang.
“oh, maaf. kau tak apa” Kata Will.
“Aku lebih suka meminum jus ini, dari pada menumpahkannya, tapi aku tak apa!” jawab Taylor.
“maaf.” kata Will. Dan sambil berjalan meninggalkan will Taylor menjawab:
“kau harus lebih hati-hati, sudahlah.” Will mengejar Taylor dan berkata
“hei, dengar. Aku sunggu minta maaf.”
“Bukankah kau baru meminta maaf?” kata Taylor.
“Namaku will” sambung will. “Biar ku belikan baju untuk mu.”
“tidak terima kasih. Tak usah!” jawab Taylor.
“Ayolah, aku berusaha bersikap ramah” kata Will.
“Apakah dengan begitu caranya berusaha mendekati orang asing?” Tanya Taylor.
“Kau tahu? Aku sama sekali tak tertarik membelikanmu baju” jawab Will.
“begitukah?” Tanya Taylor. “Aku kemari agar tim lain bisa beristirahat sejenak “ jawab Will.
“Wow, ambisius dan congkak” kata Taylor.
“Kenapa kau tak menonton saja?” Tanya will.
“aku tak mau! Terima kasih” jawab Taylor dengan penampilan wajah yang tak menyenakkan meninggalkan will. Will hanya terdiam dan kagum melihat jawab Taylor. Ternyata will adalah lelaki yang di idamkan banyak perempuan di daerah itu. Dia pun heran atas jawaban Taylor.

Di rumah ayah dan ibu berbincang-bincang. Dan ketika ibu berjalan, ibu berkata
“oh kau sudah memperbaiki piano ini?”
“yah. Taylor telah merusaknya dengan sangat baik. Sekarang aku tahu seperti apa bentuk piano jika ada yang menghempas pemukul baseball ke situ” jawab ayah.
“oh, kau terlalu sering melatihnya” kata ibu.
” Dia masih sering bermain piano?” Tanya ayah.
“tidak semenjak kau pergi. Brian telah membelikannya piano elektrik, tapi dia tak mau mendekatinya” jawab ibu. Ayah menujuh dapur dan mengambilkan ibu minuman. Setelah itu ibu berkata
“dia bilang kalau dia masuk ke Julliard, kan?”.
“tidak.Tanpa latihan?” Tanya ayah.
“Mereka bilang telah melihatnya memainkan piano sejak umur 5 tahun. Tapi itu tak penting. Karena dia bilang tak mau masuk” jawab ibu.
“Wow, dia membuat keputusan yang tepat” kata ayah.
”Aku senang kau begitu yakin” kata ibu dengan raut muka yang kurang sedap. “kita menyakiti mereka, steve. Khususnya Taylor. Kita bisa coba berpura-pura…”
“aku takkan melakukan itu. Oke?” potong ayah. “semua telah terjadi. Tak ada yang sempurna. Dan Taylor, dia akan baik-baik saja” kata ayah yang mencoba menenangkan ibu.

Ketika di karnaval untuk membeli pakaian yang telah terbuang jus stoberi, Taylor bertemu Sam dan Sam memanggilnya untuk pulang. Sepulangnya Taylor dari karnaval, Taylor langsung menuju kamar dan ternyata Taylor sekamar dengan adiknya.
“wow, keluar kau dari kamarku!” kata Taylor.
“kau tidur di sebelah ranjangku atau kau tidur dengan ayah?” jawab Sam. Ketika Taylor keluar untuk pergi ke kamar kecil dan ayah memanggil Taylor dan berkata
“dari mana saja kau Taylor? Ini hampir pukul 01.00 malam, jadi…” taylor memotong pembicaraan ayahnya dan berkata “ayah tak perlu menungguku. Umurku bukan 12 tahun lagi”.
“ayah tak khawatir saat kau berumur 12 tahun” jawab ayah. Dan Taylor menyambung “dan sekarang baru ayah khawatir!”.
“jika kau tinggal di sini, kau harus…” Taylor memotong perkataan ayah dan mengatakan “aku tak ingin tinggal disini, ayah. Jadi pahami. Aku tak ingin tinggal disini. Apa itu tidak jelas? Apa ayah tak mengerti?” jawab Taylor
“yah. Ayah kita usahakan perbaiki itu, ok?” ayah melanjutkan bermain piano dan Taylor kembali ke kamar. Namun sebelum membuka pintu taylor berkata
“apa ayah ingin bermain piano? Karena jika yah, aku akan tidur di luar!” ayah mengalikan pembicaraan dengan berbicara universitas yang akan dipilih oleh Taylor. Ayah berkata
“hei, selamat kau masuk Juiliard”.
“kenapa? Aku takkan masuk!” jawab Taylor. “Itu suatu hal yang keliru” jawab ayah.
“ayah dan ibu tahu benar tentang berbuat keliru, ternyata aku sudah belajar dari yang terbaik” kata Taylor dengan sombong.
“Cukup!” sambung ayah dengan penuh kemarahan. Tiba-tiba Sam keluar dari kamar dan Taylor menenangkan Sam yang masih kecil dengan menyusul dia ke kamar.

Keesokkan harinya tanpa sarapan Taylor keluar rumah. Dia menuju pantai dan bertemu dengan telur kura-kura yang akan dimakan oleh seekor raccoon.
“oh… tidak! Pergi-pergi”. Tiba-tibah ayah datang dan berkata
“apa yang kau lakukan di sini Taylor?” kata ayah.
“kura-kura laut baru bertelur. Raccoon akan memakan telur ini jika aku tak mengusirnya” jawab Taylor.
“Benarkah?” kata ayah. “Yah, saat kura-kura betina bertelur, raccoon mencium baunya dan sebuah situs mengatakan untuk menghubungi pihak aquarium dan mencari seseorang yang bisa datang kemari dan melindungi telur-telur ini,tapi baterai HP-ku habis” jawab Taylor.
“Yah ada nomor telepon aquarium di dinding dekat telepon rumah. Jujur saja ayah tak tahu bagaimana mereka menanggapi itu” jawab ayah. Dengan kesal Taylor beranjak pergi dan ayahnya berkata
“ hei! Veronika. Tidak, Taylor, ini luar biasa. Aku suka. Kau… berlebihan!”.
Sesampainya di rumah Taylor menelepon pihan aquarium untuk mengirimkan suka relawan dengan berkata
“aku ingin melaporkan ada telur kura-kura laut di luar rumahku”. Tiba-tiba ayah datang dan ternyata ayah menyukai perkataan taylor yang berkata kalau ada telur di rumahku. Wajah yang gembira dengan senyuman ayah membuat Taylor risih dengan tingkah laku ayah.
“Apa? Kau bilang di luar rumahku? Aku suka itu” kata ayah.
“apa ayah mulai sok ramah seperti anak sekolahan? Kenapa ayah sering tersenyum akhir-akhir ini? Jujur saja itu mengerikan”. Kata Taylor dengan menyindir ayahnya lalu pergi. Pada saat itu ayah bertanya pada sam kalau senyumnya mengerikan atau tidak.
“apa senyumku mengerikan Sam?” kata ayah.
“entahlah. Coba ku lihat” jawab Sam. “aku sedang melakukannya”.
“Kurasa ya, tapi sebaiknya ayah tunjukan gigi, hahaha ayah hanya dibodohi kakak”.

Sore pun tiba dan sukrelawan itu datang di pantai dan bertemu Taylor.
“apa yang kau lakukan di sini?” kata Taylor.
“Kau ngapai disini!” balas si sukarelawan. “Aku yang bertanya lebih dahulu” kata Taylor.
“Aku datang, untuk menandai sarang telur kura-kura”. Jawab si sukarelawan.
“Apa kau berkerja untuk aquarium? Ku pikir kau montir”. Kata Taylor.
“aku tak berkerja di sana. Aku hanya sukarelawan disana”. Kata si sukarelawan. Ternyata sukarelawan tersebut adalah Will yang menumpahkan jus milik Taylor. Di saat itu hubungan mereka terjalin yang dahulunya Taylor tak menyukai keberadaan Will yang selalu mendekatinya.

Malam pun tiba, dan Will datang ke pantai untuk menjaga telur kura-kura tersebut.
“Selamat malam” kata Will.
“Selamat malam juga” jawab Taylor. Will mulai mendekati Taylor di malam itu dengan berbicara tentang berbagai hal hingga ¬membuat Taylor tertawa dan terkagum-kagum. Tiba –tiba ketika mereka berdua sedang berbicara di pantai sambil menjaga telur kura-kura itu, ayah Taylor datang.
“selamat malam” kata ayah.
“Selamat malam pak” jawab Will yang kemudian berdiri dan menjahui Taylor. Kemudian ayah memindahkan kursi yang diduduki oleh Will menjahui kursi Taylor dengan memberikan garis pemisah.
“keberatan?” kata ayah.
“oh, Tidak. Aku mengerti” jawab Will. Akhirnya mereka pun tidur setelah ayah memberikan jarak untuk mereka berdua.

Pagi tiba, dan wil mengajak Taylor untuk pergi ke aquarium. Taylor melihat Will yang berenang di aquarium besar itu. Dia senang melihat ikan-ikan tersebut.
“pasti asyik biasa berenang dengan ikan-ikan itu” kata Taylor.
“Kau harus lihat dari sini” kata Will.
“mungkin suatu hari nanti” jawab Taylor. Kemudian mereka menuju pantai. Ketika Will sedang bermain voli, Taylor ingin membelikan air untuk Will. Setelah itu seseorang perempuan berambut pirang datang menghampiri Taylor.
“Rambut basa? Coba ku tebak. Dia membawa mu ke aquarium dan menunjukan kehebatannya di dalam air bersama ikan padamu. Kau terkesan?” kata perempuan pirang itu.
“apa aku mengenalmu?” kata Taylor.
“Aku teman Will. Tapi, asal kau tahu, Will punya banyak teman. Dia membuat kami semua merasa istimewa. Untuk sementara saja” jawab perempuan pirang itu yang kemudian pergi meninggalkan Taylor. Taylor mempercayai kata perempuan berambut pirang itu. Dia balik ke rumah dengan sangat marah.

Di rumah Sam sedang berbicara dengan ayah ketika sambil membuat kaca gereja. “ayah… apakah ayah dan ibu pernah bicara untuk kembali rujuk?” kata Sam. “sam, ibumu mau menikah.” Jawab ayah. “lalu? Ayah yang menikahnya lebih dahulu” kata Sam.
“yah. Ayah pertama dan itu pernikahan yang bahagia. Benar. Pernikahannya bertahan lama.kami punya anak-anak yang hebat. Hanya saja.. cinta tak selalu.. Cinta saja tak cukup. Mungkin sulit untuk di mengerti” kata ayah.
“Apa yang punya satu mata, berbicara bahasa Perancis dan suka sekali kue?” Tanya Sam.
“Apa kau bicarakan cinta?” Tanya ayah kembali. “hahaha kue…..” kata Sam. “Oke.. kue, bagus” kata ayah. “aku menggantikan topic ke kue. Keren ‘kan?” kata Sam.
“ya..ya.. akan ku ambil” kata ayah. Ketika ayah mengambilkan kue untuk Sam, ayah melihat Taylor yang sedang duduk di sofa dengan nafas yang tergesa-gesa.
“Apakah semuanya baik-baik saja” kata ayah kepada Taylor. Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah Taylor pun pergi untuk membuka pintu. Ternyata Will.
“Hei, kau tak kembali” kata Will. Taylor menutup pintu dengan keras. “Taylor? Ada apa?” kata Will.
“pergilah!” kata Taylor dan kemudian pergi menuju kamar. Lalu ayah membuka pintu dan berbicara dengan Will. “maaf, Pak. Bisa katakana yang terjadi?” kata Will. “itu membutuhkan pemahaman bagai mana pikiran wanita bekerja, sementara aku tak tahu, jika kau mau masuk kau masuk dan kita cari bersama, kau aka sangat disambut di sini” kata ayah dengan sedikit menyindir Will. “taka apa. Aku tunggu diluar saja” kata will.
“Berapa lama dia akan tinggal disana?” kata Sam.
“Kenapa tak tanyakan saja?” kata ayah.
“dia bukan pacarku ayah, dia pacarnya” kata Sam.
“Dia juga bukan pacarku” kata Taylor.
“Apa menurutmu dia akan menunggu disitu semalam?” Tanya Sam.
“sulit dikatakan” jawab ayah.
“1 dollar menurutku ya,” kata Sam.
“1 dollar? Baik. Kita bertaruh. Ayo buat lebih menarik, 2 dollar. 2 dollar, dia akan pulang. Kau masi punya uang dolla kan?” kata ayah.
“yah, masih punya. Dan setuju. Bagaimana jika dia tunggu selamanya? Bagaimana jika dia tak pergi dan mati disana?” tanya Sam.
“ya, dan mayatnya di makan oleh sekelompok raccon” kata ayah sambil bersenda-gurau.
“dan dia tetap takkan pergi, karena begitulah kuat nya cinta itu” kata Sam.
“ada apa dengan kalian berdua?” sambung Taylor. Taylor pun keluar dan menuju Will di pantai.
“kau harus pergi. Kau membuat adikku ketakutan” kata Taylor.
“tidak sampai kau bilang apa yang terjadi. Apa karena Ashley? Aku lihat kau bicara dengannya dia di pantai. Apa yang dia katakkan?” Tanya Will.
“pergilah, oke?” jawab Taylor. “katakana apa yang dia bilang padamu Taylor” jawab Will.
“Will, aku kemari bukan untuk mendapatkan kisah romantis dengan pemuda local yang telah berkencan dengan ribuan gadis lainnya!” kata Taylor.
“apa?” Tanya Will. “Ashley bilang tentang semua gadis yang kau kencani. Jadi, aku tak mau menjadi korbanmu yang berikutnya di parade pacarmu, Will. Pergi ke kencan yang sama, dan melakukan hal yang sama! Kurasa karena itulah sebaiknya kita akhiri saja. Kata Taylor dengan penuh emosi sambil meninggalkan Will perlahan-lahan.
“berakhir? Berakhir apa? Taylor ya, oke, aku memang pergi dengan gadis lain sebelum kamu. Itu benar tetapi itu semua sebelum bertemu kamu! Bagaimana kau bisa marah dengan itu?” tanyaWill pada Taylor. Seketika Taylor berbalik dan berkata
“Will, jangan berani kau permainkan aku. Kita berdua tahu ini bukan salahku..Will!” Seketika Will menarik Taylor dan menciuminya. “kau tak seperti gadis lain” kata Will.

Setelah malam Taylor kembali ke rumah. Dia sangat senang dan gembira.
“Apa yang terjadi” kata Sam.
“kakakmu baru berciuman Sam” kata ayah.
“Daddy! Tidak…” sambung Taylor. Taylor mengejar ayahnya dan di situlah hubungan Taylor dengan ayahnya kembali membaik. Taylor menceritakan apa yang terjadi dan apa yang dia rasakan pada waktu ia bersama Will. Ayah menganjurkan jika dia memang yang terbaik, terimalah Will sebagai pacarnya.

Pagi pun tiba. Will datang untuk menjemput Taylor jalan-jalan ke rumahnya.
“Selamat pagi Taylor” kata Will ketika Taylor membuka pintu.
“Pagi juga, Will” jawab Will. “apakah kau telah bersiap-siap?” Tanya Will.
“oh, tentu sudah siap” jawab Taylor.
“kalau begitu, ayo kita berangkat” kata Will. Mereka pun berangkat menuju rumah Will. Namun dalam perjalan, Will mengambil jalan pintas dan ban mobil mereka terselip. Ketika Will sedang mencoba menggali tanah untuk mengeluarka mobil mereka dari lumpur itu Taylor berkata didalam mobil
“bagaimana kau diluar sana? Ini sudah semakin gelap. Biasanya ini bagian di mana ada orang datang dengab geraji mesin keluar dari belakang pohon dan memotong tubuh kita” kata Taylor dengan mencoba membuat Will takut.
“bisa kau tekan gasnya?” kata Will. Ketika Taylor menekan gas mobil, lumpur yang ada terpancar pada Will. Membuat Taylor tertawa terbahak-bahak. Ketika Taylor sedang tertawa, Will mengambil lumpur dan melemparkan lumpur itu kepada Taylor. Pada waktu itu mereka bermain lumpur.
Akhirnya pun mereka tiba di rumah Will. Ternyata Will adalah orang yang kaya, Taylor heran akan apa yang dilihatnya.
“Ini rumahmu? Kau tinggal disini? Kau kaya? Will, kau bilang kalau ayahmu punya bengkel!” kata Taylor dengan heran.
“memang. Dia punya 300 lagi bengkel seperti itu. Jawab Will. Tidak,tidak. Aku tak mau masuk, dengan keadaan penuh lumpur seperti ini” kata Taylor.
Namun Will terus membujuknya dan akhirnya mereka membersiakn tubuh mereka di belakang rumah. Setelah itu Taylor makan bersama kedua orang tua Will. Orang tua Will sangat menyukai Taylor yang sangt sopan ketika sedang makan. Ternyata ayah dan ibu Will merestui hubungan mereka berdua. Selesai makan Will mengantar Taylor untuk pulang. Akhirnya mereka berdua bahagia setelah melewati hal-hal yang membuat cinta mereka semakin kuat.

Unsur Intrinsik
Tema : Kehidupan sosial/percintaan
Saya mengangkat tema ini karena saya berpikir bahwa cerita yang bertemakan cinta sangat digemari kaum remaja dan pemuda untuk menjadi pedoman yang baik bagi kehidupan mereka.

Latar/setting :
-Tempat : 1. Di mobil (dengan cepat Sam turun dari mobil dan memeluk ayahnya yang sudah menunggu mereka)
2. Di pekarangan rumah (memeluk ayahnya yang sudah menunggu mereka di pekarangan rumah)
3. Di pantai (Taylor berjalan ke pantai dan melihat banyak orang yang sedang bersenang-senang di pantai)
4. Di karnaval (Dia menuju karnaval. “hai. Mau pesan apa?” Tanya dari seorang penjual.)
5. Didapur (Ayah menujuh dapur dan mengambilkan ibu minuman)
6. Di kamar (Taylor menuju kamar dan ternyata Taylor sekamar dengan adiknya)
7. Di aquarium besar. (Taylor melihat Will yang berenang di aquarium besar itu. Dia senang melihat ikan-ikan tersebut)
– Waktu : 1. Malam (? Ini hampir pukul 01.00 malam)
2. Pagi (Pagi tiba, dan wil mengajak Taylor untuk pergi ke aquarium)
– Suasana : menyenangkan, menakjubkan, ricuh,

Alur :
Jenis alur :
• Eksposisi
Taylor dan Sam diantar ibunya kepada ayahnya pada waktu musim panas.
• Komplikasi
Ketika di pantai Will sedang menangkap bola voli dan menabrak Taylor dengan tak sengaja di pantai.
• Klimaks
Will dan Taylor berbicara di pantai. Taylor sangat marah karena dia berpikir dijadikan permainan bagi will.
• Antiklimaks
Will meminta maaf pada Taylor dan menjelaskan bahwa itu dia lakukan sebelum bertemu dengan Taylor dan dia juga berkata bahwa Taylor tak seperti wanita lain.

• Resolusi
Will mengajak Taylor untuk pergi kerumahnya. Dan ketika disana ayah dan ibu Taylor merestui hubungan mereka berdua.
Sudut Pandang : orang ketiga
Saya menceritakan tentang kehidupan orang lain, jadi ada baiknya saya menggunakan sudut pandang orang ketiga karena itu tak terjadi pada saya.
Penokohan :
` – Tokoh
1. Taylor (protagonist)
2. Will (protagonist)
3. Sam (Tritagonis)
4. Ayah (tritagonis)
5. Ibu (tritagonis)
6. Ashley (tritagonis)
7. Penjual ice cream (tritagonis)
-watak
1. Taylor : cuek, penyayang, mudah terpengaruh dengan perkataan orang,
2. Will : cangkak, suka ganti-ganti pacar, baik, suka merayu wanita.
3. Sam : polos, baik, penyayang.
4. Ayah : baik, penyayang, bijaksana, peduli pada orang lain dan suka bermain piano.
5. ibu : baik, mudah kawatir dan penyayang.
6. Ashley : sombong, pencemburu, suka merasuk orang lain.
7. penjual ice cream : ramah.
Amanat:
• Harus mencintai keluarga dan menutupi kekurangan di dalam keluarga.
• Kita harus belajar menghargai orang lain
• Tidak membedahkan yang kaya dan miskin.
• Peduli dengan keluarga.
• Saling memaafkan.p